Buku ini lahir dari kegelisahan yang panjang. Kegelisahan seorang praktisi media yang menyaksikan bagaimana kebebasan pers—yang diperjuangkan dengan pengorbanan besar pasca-Reformasi 1998—perlahan digeser bukan oleh larangan terang-terangan, melainkan oleh mekanisme administratif, tafsir regulatif yang melebar, serta relasi kuasa ekonomi-politik yang kian halus namun efektif.
Di era digital, tantangan pers tidak lagi semata datang dari sensor negara. Ia menjelma dalam bentuk baru: algoritma platform global, buzzer politik, disinformasi berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), ketergantungan anggaran pemerintah, hingga kebijakan lembaga yang seharusnya melindungi pers, tetapi justru berpotensi menyempitkan ruang geraknya. Kebebasan pers tidak dibunuh; ia dipelintir perlahan, dilelahkan, dan dibingkai sebagai persoalan administratif.
Buku ini tidak ditulis untuk memusuhi institusi, apalagi untuk meniadakan peran Dewan Pers atau lembaga profesi.
Sebaliknya, buku ini berangkat dari keyakinan bahwa kritik adalah bentuk kecintaan paling jujur terhadap demokrasi. Kritik diperlukan justru agar lembaga-lembaga pers tetap setia pada mandat sejarah dan konstitusionalnya.
Tentang Penulis:
Jafarudin adalah seorang wartawan. Ia merupakan pendiri sekaligus Pemimpin Redakasi berita.com.
Sosok yang akrab disapa Fafa ini adalah lulusan Program Bahasa dan Sastra (Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.
Ia dikenal sebagai aktivis semasa mahasiswa. Selain Menjabat Sebagai Presiden BEM di kampusnya, Fafa juga aktif dalam organisasi intra kampus yang bergiat dibidang jurnalistik, yakni Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) SKETSA Unsoed.
Setelah lulus kuliah pada 2007, ia langsung bekerja sebagai wartawan di Harian Koran Rakyat.
Pada 2008 ia memutuskan hijrah ke Yogyakarta dan berkarier di Jawa Pos Group (2009-2013). Terakhir ia menjabat Kepala Biro Surat Kabar Harian (SKH) METEOR Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Setelah memutuskan resign pada Agustus 2013, ia merintis perusahaan berbadan hukum Pers, PT Media Wartatama Berdikari. Ia mendirikan portal berita jogjakartanews.com (10 November 2013).
Kemudian pada 15 April 2023, Fafa bersama senior sekaligus salah satu guru jurnalistiknya, Sigit Purwita (eks Wartawan RCTI/ Kepala Biro MNC DIY), mendirikan portal beritajogja.com.
Aanggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DIY ini tercatat lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Dewan Pers.
Sebelumnya Fafa juga sudah menerbitkan dua buku fiksi, yaitu “Bulan Separuh Purnama” (Cetakan I: Mei 2011, Penerbit: Cupid). Kemudian buku berjudul : “Makar di Republik Rimba Comberan : Sekumpulan Dongeng Binatang Politik” (Cetakan I: Agustus 2017, Penerbit: Wartatama Prsss). Buku AMBANG SANDYAKALA JURNALISME, Salam Sayang untuk Dewan Pers ini adalah buku non fiksi pertamanya.



